DSC_0149

Forum Diskusi Geologi #1

[tabs slidertype=”simple” fx=”slide” auto=”yes”] [tab]DSC_0149[/tab] [tab]DSC_0120[/tab] [tab]DSC_0133[/tab] [tab]DSC_0150[/tab] [tab]DSC_0153[/tab] [/tabs]

Pada tanggal 22 Februrari 2013, ruangan kelas 3.1 diisi oleh mahasiswa dari berbagai angkatan untuk menghadiri Forum Diskusi Geologi dengan tema “Kurikulum Geologi Dalam Perspektif Mahasiswa” yang diadakan oleh Departemen Pendidikan dan Penalaran (Diklar) HMTG FT UGM. Acara ini merupakan program kerja perdana Departemen Diklar HMTG khusus pada bidang akademik. Forum diskusi bertujuan untuk menyinergikan antara mahasiswa dengan jurusan khususnya pada bidang kurikulum akademik. Acara diketuai oleh Kamil Ismail mahasiswa Teknik Geologi dengan moderator M. Fatih Qodri. Acara dimulai pada pukul 16.30 WIB dan selesei pada 18.20 WIB dengan pemateri yaitu Bapak Salahuddin Husein, S.T., M.Sc., Ph.D. selaku ketua PPJ Akademik dan dihadiri peserta sebanyak 36 orang.

Format diskusi berupa Focus Group Discussion yaitu dibuat enam kelompok dengan masing-masing kelompok diisi oleh pemimpin diskusi mengangkat isu-isu yang ada dengan berbagai sudut pandang berbeda. Setelah diskusi kelompok berakhir, perwakilan pembicara tiap kelompok akan menyampaikan hasil diskusi dari topik yang diangkat kelompok tersebut lalu disusul dengan tanggapan dari kelompok lain menyangkut topik yang diangkat. Topik yang didiskusikan tiap kelompok berbeda-beda, antara lain topik tentang materi kuliah, kuliah lapangan, praktikum, penempatan mata kuliah, lulusan kurikulum 2011, dan kemungkinan lulus tepat waktu (empat tahun). Diskusi berjalan aktif dengan adanya penanggap tiap kelompok diskusi pada permasalahan akademik yang diangkat.

Kesimpulan yang dapat diambil dari forum diskusi ini, antara lain kebijakan DIKTI maupun UGM mendesak diadakannya perubahan kurikulum. Dibalik segala solusi yang sudah di desain dalam kurikulum 2011, kurikulum ini masih menyimpan beberapa permasalahan yang dirasakan oleh mahasiswa baik dari konten matakuliah, waktu, praktikum, kuliah lapangan, dll. Semua kritik maupun saran sudah disampaikan ke PPJ Akademik.

Permasalahan utama yang dirasakan adalah belum terintegrasinya sistem yang dibangun dalam kurikulum 2011. Tidak hanya mahasiswa, ternyata dosen juga turut merasakannya permasalahan tersebut.

Solusi untuk mengatasi beberapa permasalahan diatas adalah harus adanya integrasi sistem kurikulum, mahasiswa harus bisa berdisiplin dalam melaksanakan kuliah, praktikum maupun kuliah lapangan, harus adanya control dosen terhadap mahasiswa serta semua pihak harus bisa saling mendukung untuk menjadikan Teknik Geologi UGM bisa menjadi lebih baik. (TIM)

DSC01841

Wentworth Geology Lecture Understanding

[tabs slidertype=”simple” fx=”slide” auto=”yes”] [tab]DSC01839[/tab] [tab]DSC01841[/tab] [tab]DSC01843[/tab] [/tabs]

Penasaran kuliah di jurusan geologi Cambridge atau Berkerley seperti apa? tidak perlu jauh-jauh menyeberang samudera: Wentworth English Club meeting 2 menghadirkan suasana lecture jurusan geologi mancanegara. Kelas yang dipandu oleh Yusuf Amien Yafie, senior TGL UGM angkatan 2010 yang berpengalaman mengajar bahasa Inggris 6 jam perminggu di lembaga professional berlangsung selama 2 jam pada Jumat malam, 1 Maret 2013 bertempat di meeting room Waterbank Cafe.

Seperti yang telah dipampang jauh-jauh hari di poster besar Wentworth, tujuan meeting 2 ini adalah untuk memahami lecture geologi dalam bahasa Inggris native dengan berbagai aksen. Fokus utamanya meningkatkan kemampuan listening untuk material geologi berbahasa Inggris. Meeting dibuka dengan pengenalan tentang apa yang akan dipelajari selama 2 jam ke depan. Kemudian, untuk pemanasan, members disuguhi video head-to-head penutur british english dan american english. Video yang dibintangi cewek England berambut pirang dan cowok Amerika yang ceria ini menguji pengucapan kata-kata dalam aksen yang berbeda. Selanjutnya ditampilkan video lain yang membahas aksen Canadian dan Australian. Kelas kemudian mendiskusikan perbedaan yang dapat mereka tangkap.

Agar kelas meriah, diputarkah video unik buatan mahasiswa universitas Berkerley yang membahas landslide dengan cara menyanyikannya secara hiphop! Video ini keren dan liriknya pun enak didengar, sehingga menambah pengetahuan landslide maupun kemampuan listening dengan cara yang menghibur.

Akhirnya dimulailah sesi utama yang lebih “kuliahan”, yaitu mendengarkan video footage mengenai Plate Tectonics. Peserta diberi lembar pertanyaan untuk menguji pendengaran dan juga masuk ke sesi diskusi untuk melatih keberanian speak up. Setelah kelar dibahas, level dinaikkan ke lecture mengenai rock mechanics oleh Professor David dari Berkerley juga, dimana pembahasannya lebih teknis, pengucapannya lebih cepat, dan tentunya tidak diiringi musik-musik. Setelah selesai membedah isi lecture tersebut, dilanjutkan ke lecture dengan aksen british oleh professional Shell yang mengajar di Cambridge mengenai Unconventional Gas. Yang terakhir ini cukup menguras keringat sebab aksen british memang kurang familiar di telinga anak Indonesia yang biasa mendengarkan aksen American, apalagi yang diajarkan adalah hard science.

Meeting pun ditutup dengan review singkat oleh Yafie. Di akhir meeting, dilaksanakan evaluasi kelas untuk perbaikan kelas berikutnya. Oh iya, semua diskusi dan perkataan dalam ruangan harus memakai bahasa Inggris loh. Meskipun itu hanya mau minta geser duduk atau bercanda, semua harus dalam bahasa Inggris. Dalam 2 jam itu, members baik reguler maupun insidental serasa berada di luar negeri karena semua kata-kata yang diucapkan oleh teacher maupun members sepenuhnya in English.

Seru bukan? makanya, jangan ketinggalan dalam session selanjutnya: membuka rahasia membuat tulisan yang enak dibaca dalam bahasa Inggris sesaat setelah mendapatkan informasi. Sesi ini akan diajar oleh Jasmin Jyalita, senior TGL UGM 2009 yang telah melanglang ke California, USA untuk mempresentasikan papernya dan tentunya kemampuan bahasa Inggrisnya tidak dilakukan lagi, di samping pengalaman mengajar sebagai asisten Lab Geofisika Eksplorasi dan Lab Sedimentografi. Catat tanggalnya: 15 Maret 2013 pukul 18.30, segera sms Kevina [ww2/name/batch] ke 0898 9776636 untuk menyelamatkan salah satu dari 10 kursi yang tersedia! (Wentworth)

IMG_0605

Wentworth TOEFL LIKE Test

[tabs slidertype=”simple” fx=”slide” auto=”yes”] [tab]IMG_0620[/tab] [tab]IMG_0617[/tab] [tab]IMG_0612[/tab] [tab]IMG_0605[/tab] [/tabs]

Wentworth English Club, klub belajar bahasa inggris yang termasuk dalam agenda rutin Departemen Litbang HMTG FT UGM, menyapa semester baru dengan TOEFL LIKE Test. Tes kemampuan bahasa Inggris ini bekerja sama dengan Realia English, sebuah lembaga kursus bahasa ternama di Yogyakarta, sehingga peserta mendapatkan diskon 40% dari harga normal 75.000. Pengadaan tes TOEFL LIKE berjamaah ini dimaksudkan untuk mendorong warga Teknik Geologi UGM menyadari level bahasa Inggrisnya sehingga dapat menyusun strategi pembelajaran bahasa internasional ini sejak seawal mungkin.

Tes TOEFL LIKE Test sendiri dimulai pada 18.45 setelah serangkaian pembukaan dan berdurasi 120 menit. Peserta dihadapkan oleh soal Listening, Reading dan Structure. Soundsystem dari KPFT 2.1 sangat mendukung keperluan listening dalam tes sehingga seluruh peserta menangkap pertanyaan dengan jernih. Dilanjutkan dengan soal-soal bacaan dan pengkoreksian grammar yang menantang konsentrasi.

Pada akhir acara, diperkenalkan program 1 semester secara lisan oleh tim Wentworth English Club diwakili oleh ketua, Sarah Sausan (2010). Total terdapat 9 meetings yang telah terjadwal untuk tahun ajaran genap 2010, detail lebih lanjut dapat dilihat di grup FB “All-new Wentworth English Club HMTG FT UGM” dan juga pada poster besar di markas HM.

Setiap peserta akan mendapatkan sertifikat dari Realia English sebagai hasil skor TOEFL LIKE resmi. Nah, berapakah skor TOEFL LIKE kamu?  (Wentworth)

DSC_0084

Bakti Sosial Ke Panti Asuhan Anak Balita

[tabs slidertype=”simple” fx=”slide” auto=”yes”] [tab]DSC_0084[/tab] [tab]DSC_0050[/tab] [tab]DSC_0057[/tab] [tab]DSC_0061[/tab] [/tabs]

Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada kembali mengadakan bakti sosial (baksos) di panti asuhan. Kegiatan bakti sosial ini merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Departemen Sosial Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi sebagai ungkapan rasa peduli terhadap sesama yang secara langsung juga untuk mendekatkan kepada masyarakat serta mengenalkan Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi.

Kegiatan bakti sosial yang diadakan pada hari Sabtu 16 Februari 2013 beberapa minggu lalu merupakan bakti sosial yang pertama diadakan pada tahun ini oleh Departemen Sosial. Kegiatan bakti sosial kali termasuk langka karena tujuannya merupakan panti asuhan balita dan anak-anak yang dilakukan di Panti Asuhan Tegal Krapyak – Panti Asuhan khusus balita dan anak-anak yang berada di daerah Jl. Bantul km 5. Jumlah mahasiswa Departemen Sosial yang mengikuti acara ini berkisar 10 orang.

Tidak seperti biasanya ketika melakukan kunjungan di panti asuhan, karena penghuni panti sebagian besar balita dan sebagian kecil anak-anak, kedatangan tim Departemen Sosial kali ini tidak di jamu dengan nyanyian-nyanyian dan salam. Ketika tim baksos datang, justru semua anggota tim baksos langsung disambut dengan tangisan dan rengekan balita-balita. Jumlah anak asuh di Panti Tegal Krapyak ini berjumlah sekitar 80 anak termasuk dengan anak-anak sekitar panti asuhan yang tidak tinggal menetap di panti. Namun jumlah anak-anak dan balita yang menempati panti secara tetap berjumlah 30 dengan 9 anak telah siap untuk diadopsi. Betapa tidak anggota tim baksos tidak langsung sibuk menggendong balita-balita tersebut, dengan jumlah penghuni yang sebanyak itu, kepala panti hanya menyediakan 6 orang pengasuh yang bekerja secara bergantian siang dan malam. Sehingga pastilah banyak anak-anak yang tidak mendapatkan perhatian secara utuh seperti anak-anak seharusnya. Beruntungnya masih ada orang-orang yang mempunyai kenginan untuk memperjuangkan hak-hak anak-anak tersebuts eperti Bapak kepala panti sekaligus pendiri panti Tegal Krapyak ini.

Anak-anak seharusnya mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tua yang memang menginginkan mereka untuk dilahirkan. Mereka seharusnya tumbuh dalam lingkungan kasih sayang yang melimpah dari keluarganya. Namun terkadang ada saja orang tua yang tega membiarkan anak-anaknya tinggal di panti asuhan. Begitulah latar belakang kondisi anak-anak dan balita yang menempati panti asuhan Tegal Krapyak ini. Dari itu pula bakti sosial dari Departemen Sosial Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi ini diadakan, karena ingin berbagi rasa dan kasih sayang kepada mereka yang membutuhkan. (TIM)