Sukabumi Subsidence

Gerakan Massa di Sukabumi

[Gerakan Massa di Sukabumi]

Sukabumi Subsidence
Peristiwa bencana akhir-akhir ini banyak terjadi di Indonesia tidak hanya di luar pulau Jawa, namun di daerah Jawa juga kerap terjadi bencana alam. Seperti yang terjadi pada awal bulan Mei, tepatnya pada hari minggu, 5 Mei 2019. Tepat pada waktu itu, bencana tanah longsor terjadi di daerah Kertaangsana, kecamatan Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat. Bencana tersebut menyebabkan kerusakan sekitar 90 rumah, 26 hektar sawah, 3 fasilitas umum serta 200 m jalan provinsi yang terganggu. Daerah terdampak bencana berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) meliputi RT 01, RT 02 dan RW 03 RW 49 berjumlah sebanyak 129 rumah dengan rincian jumlah penduduk 161 kepala keluarga yaitu 482 jiwa. Secara regional sukabumi masuk pada zona Bandung. Dimana pada zona memiliki fisografi depresi dibandingkan dengan zona Bogor dan zona Pegunungan selatan. Zona Bandung sebagian besar terisi oleh endapan vulkanik muda produk dari gunung api sekitarnya serta endapan alluvium (berumur kuarter). Struktur geologi yang berkembang didominasi oleh struktur perlipatan dan pensesaran yang bearah barat – timur (Sampurno, 1976).

Untuk daerah Sukabumi, Jawa barat secara geologi berdasarkan dari tulisan ilmiah Setiawan, 2006 mengatakan bahwa pada factor pembatas kewilayahan, bencana geologi yang sering terjadi di Sukabumi adalah Gerakan tanah. Factor pemicu gerakan tanah tersebut diantara lainnya adalah: sifat fisik batuan dan lapukannya, struktur geologi, kemiringan lereng, curah hujan serta vegetasi penutup. Berdasarkan kondisi geologisnya, di Sukabumi Selatan terdapat tiga zona kerentanan gerakan tanah, yaitu kerentanan tinggi, menengah dan rendah.

Seperti yang telah dipaparkan diatas adalah penyebab gerakan tanah secara regionalnya, namun untuk bencana gerakan tanah yang terjadi baru-baru ini di sukabumi disebabkan oleh guyuran air hujan terus menerus selama beberapa hari. Guyuran hujan tersebut makin memperbesar kemungkinan untuk tanah mengalami pergerakan karena kondisi yang lembab dan lembek, sehingga gerakan tanah sudah bisa dirasakan oleh warga sejak Senin, 22 April 2019. Kerugian yang timbul akibat adanya gerakan tanah tersebut termasuk pada kerugian materiil, dan untungnya tidak ada korban jiwa pada peristiwa ini. Kerugian tersebut meliputi 40 unit rumah warga rusak, 115 rumah warga yang terancam, 26 hektar lahan sawah terancam, bahkan fasilitas umum berupa ruas jalan Sukabumi – Segaranten pada kampong setempat anjlok.

Untuk saat ini, para warga yang rumahnya terdampak dari bencana tersebut oleh BPBD dan Panlok (Panitia lokal) diungsikan ke lokasi pengungsian atau tenda pleton. Tutur Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sukabumi, Maman Suherman, telah menyiapkan tenda pleton atau tenda family beserta dengan fasilitasnya serta kebutuhan pangan. Langkah pertama untuk mencegah korban jiwa dari daerah terdampak bencana.

Upaya pemerintah selanjutnya adalah melalukan pemulihan dan relokasi terhadap fasilitas-fasilitas warga, apabila telah selesai masa pemulihan tersebut maka akan diungsikan kembali ke rumah masing-masing. Untuk sementara ini, para warga kertaangsana terpaksa untuk menjual sebagian harta bendanya agar tetap memiliki penghasilan.

Referensi:
https://regional.kompas.com/read/2019/05/02/15491581/5-fakta-bencana-tanah-bergerak-di-sukabumi-warga-mulai-jual-harta-benda?page=all

https://regional.kompas.com/read/2019/05/06/00052871/bencana-tanah-bergerak-di-sukabumi-90-rumah-hingga-26-hektar-sawah-rusak

https://www.academia.edu/4066175/KONDISI_GEOLOGI_LINGKUNGAN_SUKABUMI_SELATAN

http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/195901011989011-YAKUB_MALIK/KONDISI_FISIOGRAFI_DAN_GEOLOGI_REGIONAL_JAWA_BARAT.pdf

Redaktur: Ayu Dwi Hardiyanti
Editor: Nur Arifah Yusfika
Desainer: Rara Fajrina M.

Ikuti kami di media sosial!
Line: line.me/R/ti/p/%40jns7950h
Instagram: instagram.com/bumigadjahmada/

#BumiGadjahMada
#MemahamiBumiMemaknaiKehidupan